PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

Penyakit Busuk Pangkal Batang pada tanaman kelapa sawit merupakan penyakit penting di perkebunan kelapa sawit di Indonesia, pada areal terserang setiap tahun 1 -2 % tanaman akan mati. Di areal pertanaman kelapa sawit generasi pertama atau kedua tingkat serangan akan lebih tinggi dan lebih cepat. Serangan berat dapat mengakibatkan populasi tanaman yang berumur kurang dari 15 tahun dapat terserang 20 -30 %.

Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) disebabkan oleh Jamur Ganoderma boninense. Laju perkembangan penyakit Busuk Pangkal Batang di Indonesia kurun waktu tahun 1848 hingga tahun 2011 meningkat signifikan hingga 10 %. Ganoderma adalah jamur patogenik tular tanah (soil borne) yang banyak ditemukan di hutan-hutan primer dan menyerang berbagai jenis tanaman hutan. Jamur ini dapat bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Berdasarkan diskusi pada pertemuan Kebijakan Perlindungan Perkebunan tahun 2010 lalu disebutkan bahwa sesungguhnya jamur Ganoderma tergolong pada kelompok jamur yang lemah. Serangan jamur  Ganoderama pada kelapa sawit menjadi dominan karena terjadi ketidakseimbangan agroekosistem di perkebunan kelapa sawit dan tidak adanya jamur kompetitor dalam tanah, akibat menurunnya unsur hara organik dalam tanahdan aplikasi herbisida yang tidak bijaksana. Beberapa faktor krusial yang mempengaruhi perkembangan penyakit BPB antara lain bahan tanaman, jenis tanah, status hara, teknik penanaman, dan tanaman yang ditanam sebelum pembukaan lahan baru.
Penyakit menyebar ke tanaman sehat bila akar tanaman bersinggungan dengan tunggul-tunggul pohon yang sakit. Laju infeksi Ganoderma akan semakin cepat ketika populasi sumber penyakit (inokulum) semakin banyak diareal perkebunan kelapa sawit. Hal ini akan mengancam kelangsungan hidup tanaman kelapa sawit muda yang baru saja ditanam.

Gejala serangan Ganoderma adalah daun mengalami proses nekrosis dimulai dari daun tua, kemudian ke daun yang lebih muda, setelah itu pelepah daun akan patah dan menggantung, pelepah daun muda tidak bisa membukan dan terkumpul lebih banyak dari biasanya. 6 – 12 bulan kemudian tanaman akan mati. Penampang batang yang terserang berwarna coklat muda dengan garis seperti pita yang disebut zona reaksi yaitu tempat berkumpulnya gum  bahan buah / Fruiting bodies  terbentuk pada bagian bawah batang atau pada akar yang sakit biasanya badan buah ini muncul ketika tanaman sudah mati. Tanaman kelapa sawit yang terserang BPB tampak daunnya menguning dan layu kemudian pelepahnya terkulai ke tanah.

Di Kalimantan Timur sendiri Penyakit BPB pada tanaman kelapa sawit ditemukan di Kabupaten Paser tepatnya di Kecamatan Long Ikis, Kecamatan Kuaro. Lalu ditemukan juga di Kabupaten Penajam Paser Utara di Desa Nenang.

Untuk mengendalikan Penyakit BPB ini ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan antara lain : membersihkan sumber infeksi sebelum penanaman dengan cara : tanaman yang sudah menunjukan gejala sakit dianjurkan diracun kemudian ditebang , tunggul dan akar digali radius 60 cm, bila ditemukan pohon dengan gejala serangan awal, dapat dilakukan pembelahan surgery. Bagian yang busuk diambil kemudian ditutup dengan penutup luka (Protectant) misalnya arang. Lalu melakukan pengamatan rutin 1 -3 kali setahun oleh petugas yang berpengalaman. Untuk menghindari infeksi Ganoderma boninense dapat membuat lubang tanam besar (big hole) berukuran 3 x 3 x 0,8 M. bisa juga dilakukan pemberian Agens Pengendali Hayati (APH) Trichoderma, sp. atau dengan Gliocladium, sp.

 

*LEO*

Berita Terkait

0 Komentar

Isi Komentar